Selasa, 02 Juli 2013

MENGAPA KASUS BANK CENTURY SULIT DIBONGKAR?




Mengapa bank century sulit sekali dibongkar ? apa sih yang menjadi penyebab hal itu ? kali ini saya akan membahas hal ini. Kasus ini bukanlah kasus asing lagi bagi Negara kita
Menurut Menteri keuangan Sri mulyani Indrawati, keputusan menyelamatkan Bank Century pada tanggal 21 November 2008 adalah untuk menghindari terjadinya krisis secara berantai pada perbankan yang dampaknya jauh lebih mahal dan lebih dashyat dari 1998. \dengan meminimalkan ongkosnya dan dikelola oleh manajemen yang baik maka Bank Century punya potensi untuk bisa dijual dengan harga yang baik. Maka, mulai hari jumat 21 November 2008 PT. Bank Century telah diambil alih oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), untuk selanjutnya tetap beroperasi sebagai Bank Devisa penuh yang melayani berbagai kebutuhan Jasa Perbankan bagi para nasabah.
Pengambilalihan Bank tersebut oleh Lembaga Pemerintah ini dimaksudkan untuk lebih meningkatan keamanan dan kualitas pelayanan bagi para nasabah. Tim manajemen baru yang terdiri dari para professional telah ditunjuk hari itu juga untuk mengelola dan meningkatkan Kinerja Bank.

Permasalahan Yang Ditimbulkan Oleh Bank Century
1. Bahwa masalah di Bank Century disebabkan lemahnya Bank Indonesia mengawasi pengoperasian perbankan nasional, sehingga merugikan keuangan Negara. BI dinilai lalai dalam pengawasan, sehingga direksi dan pemilik Bank Century sejak 2005 leluasa melarikan dana milik nasabah ke luar negri melalui penerbitan Obligasi bodong
2. DPR merasa dilangkahi pemerintah, karena pemerintah dan DPR hanya bersepakat mengeluarkan dana rekap sebesar 1,3 Trilyun, nyatanya 6,7 trilyun.
3. Pengambilalihan Bank Century oleh pemerintah melalui LPS tidak memiliki konsep yang jelas dan akan menimbulkan kerugianyang cukup besar.Dana yang dikeluarkan LPS dalam upaya penyehatan Century yang mencapai Rp. 6,77 Trilyun dapat dipastikan tidak akan bisa kembali. Dan akan menimbulkan kerugian yang besar, artinya upaya LPS memperetahankan deposan – deposannya tidak lari gagal.
4. Saat ini muncul dugaan dana rekap Bank Century bukan hanya 6,7 trilyun tetapi mencapai hingga 9 Trilyun.
Dan menurut informasi informasi dan sumber sumber yang saya dapat saya melihat bahwa Timwas Century di DPR masih bertekad mau memanggil pimpinan KPK untuk dengar pendapat terkait perkembangan penyidikan KPK atas skandal Century itu. Pasalnya, KPK kembali menolak untuk menghadiri undangan rapat yang sedianya digelar Rabu (29/5/2013).
Bukan kali ini saja KPK menolak undangan Timwas Century. KPK sebelumnya juga menolak undangan Timwas Century dengan alasan menghindari konflik kepentingan karena pertemuan itu juga akan dihadiri sejumlah pegawai Bank Indonesia yang berpotensi menjadi saksi KPK. Menurut Ketua KPK Abraham Samad, kode etik KPK melarang pihaknya bertemu dengan pihak-pihak yang akan diperiksa.
Nama Wakil Presiden Boediono terus dikaitkan dengan kasus tersebut karena ketika keputusan itu diambil, ia menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia pada 2008. Dua anak buah Boediono di BI, Budi Mulya dan Siti Fadjrijah sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK. KPK juga belum menjelaskan status, apakah terlibat dalam kasus bailout Bank Century senilai Rp6,7 triliun itu atau tidak.
Apabila KPK menetapkan Boediono sebagai tersangka, Timwas bisa fokus pada upaya penuntasan kasus ini pada tingkat tugas-tugas konstitusional. Posisi DPR dalam mengusulkan HMP (Hak Menyatakan Pendapat) diperkuat. Bahkan, perlu dibentuk Pansus HMP.
Menurut anggota tim pengawas kasus Century, Fahri Hamzah, tuduhan yang selama ini melekat kepada Boediono harus diperjelas. Jangan menunggu sampai 2014 atau yang bersangkutan tidak lagi menjabat sebagai wakil presiden. "DPR memiliki kewajiban menuntaskan tuduhan utamanya kepada Boediono cs agar status Pak Boediono tidak menggantung seumur hidup," kata Fahri, Jakarta, Kamis (3/1/2013).
Dalam kaitan ini, audit yang dilakukan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terkait bailout Bank Century menyisakan persoalan tersendiri sehingga sampai saat ini kasus ini masih terkatung-katung penyelesaiannya.
Menteri Perekonomian era Presiden Gus Dur Dr. Rizal Ramli menyatakan, sebenarnya kasus bailout Bank Century tidak susah untuk dibongkar. Indonesia punya pengalaman dengan kasus Bank Bali dimana pemeriksaan dilakukan hingga lima lapis (layer) sehingga semua jelas kemana saja dananya mengalir. Mestinya, cara seperti ini juga dilakukan terhadap Century agar KPK lebih mudah menuntaskan kasus bank century ini.
Kini dengan debut KPK yang begitu getol membongkar skandal impor daging sapi PKS, namun lelet dan lembek dalam menuntaskan kasus Century dan Hambalang, membuat publik bertanya-tanya Ada apa KPK dengan pelaku skandal Century sehingga tak kunjung membereskannya?keganjilan kpk dikasus century ini menjadi sorotan.
Dan menurut saya mengapa kasus bank century ini sulit dibongkar dikarenakan adanya penegakkan hukum yang dilakukan KPK . Dan seharusnya KPK tidak boleh tebang pilih, dan harus membongkar tuntas Century, agar kasus ini cepat terselesaikan. dan bisa jadi dikarenakan tidak adanya nyali kpk untuk menyorot actor intelektual kasus ini. Public berharap pelan tapi pasti KPK bisa menuntaskan kasus Bank Century dan mengungkap aktor intelektual korupsi dalam pemberian fasilitas pendanaan jangka pendek untuk bank itu.
               

Senin, 01 Juli 2013

kesadaran mengabdi pada negara

Membuat sumbangan tulisan untuk mengenang mendiang Doctor Johannes Leimena berarti menggambarkan seorang tokoh nasional yang mengerjakan tiap tugas negara atau tugas masyarakat yang diwajibkan kepadanya senantiasa dengan kesungguhan hati. Mungkin kesungguhan hati itu memang tabiat dirinya, tapi mungkin pula hasil latihan mendalam yang diperolehnya, karena seringnya menduduki jabatan-jabatan penting, hingga mempunyai pandangan menyeluruh tentang kesukaran-kesukaran besar yang dihadapi negara dan rakyatnya. Indonesia terpaksa mengambil jalan revolusi dalam mengadapi keinginan Belanda untuk menjajah kembali. Memang tidak ada pilihan lain terhadap negara penjajah itu, daripada Proklamasi Kemerdekaan dan berjuang untuk mempertahankannya. Tentang keputusan bangsa itu kita tidak pernah menyesal. Tapi sebaliknya kita harus mengakui, bahwa jalan ini membawa banyak sekali peristiwa-peristiwa yang ruwet dan sulit, baik selama revolusi maupun setelah pengakuan kedaulatan. Kita membutuhkan sekali tokoh-tokoh nasional yang berkesadaran mengabdi Negara dan rakyat untuk menyelesaikan peristiwa-peristiwa yang banyak itu.
Almarhum Doctor Johannes Leimena adalah tokoh nasional yang patut diperingati, karena marhum, dengan lain-lain nama yang terkenal seperti Latuharhary dan Putuhena, sejak sebelum revolusi termasuk golongan yang menanam kesadaran yang kuat akan kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia, mula-mula melalui kalangan cendekiawannya, selanjutnya merata sampai rakyatnya di seluruh Maluku.
Tapi sifat dan jalannya revolusi Indonesia menumbuhkan keadaan yang berbeda-beda di wilayahnya yang sangat luas itu. Macam-macam faktor dapat menimbulkan situasi yang macam-macam pula, hingga muncul peristiwa-peristiwa yang ruwet dan pelik. Komunikasi antara Jawa dan luar Jawa sukar, dan ini diexploitir oleh Belanda dalam membentuk Negara Bagian Indonesia Timur. Dalam waktu peralihan sesudah pengakuan kedaulatan Republik berdasarkan konperensi Meja Bundar muncul separatisme di daerah yang sangat terbatas dalam bentuk Republik Maluku Selatan.
Almarhum Dr. Leimena dikirim ke Maluku untuk menyelesaikan peristiwa RMS ini.
Pada waktu itu marhum dan penulis bersama duduk dalam satu kabinet, kabinet RIS di bawah pimpinan Bung Hatta. Marhum sebagai Menteri Kesehatan, penulis sebagai Menteri Perburuhan. Jika usaha penyelesaian dengan damai tidak berhasil, hal ini pasti bukan karena marhum tidak mencurahkan sepenuhnya tenaga dan pikirannya. Penyelesaiannya terpaksa dijalankan dengan kekerasan. Gerakan separatis ini hanya mendapat akar di satu pulau, karena salah paham dan ulah beberapa oknum pimpinan militer Belanda dan dari daerah sendiri.
Seluruh daerah Indonesia Timur menggabung menjadi Negara Kesatuan, Republik Indonesia Kesatuan, bersama Negara-negara Bagian buatan Belanda lainnya. Republik Indonesia Kesatuan yang mengganti Negara RIS ini dinyatakan berdiri pada 17 Agustus 1950. Dengan demikian dari Negara Bagian dan Daerah Istimewa bentukan Belanda yang merupakan masalah hanya yang menamakan diri negara RMS saja.
Pemberontakan ini dapat ditumpas dalam waktu yang tidak lama, tapi peristiwa ini mempunyai akibat-akibat yang berkepanjangan. Tidak saja, karena “Presiden”-nya tidak terus ditangkap, tapi juga, karena RMS sebagai gerakan di negeri Belanda berulang kali menimbulkan keonaran, setelah “Presiden”-nya itu tertangkap dan menjalani keputusan Hakim di Indonesia. Nampaknya Pemerintah Belanda terlalu lama membiarkan kegiatan RMS ini, dan pasti juga  di sana ada badan dan golongan yang membantunya. Kita percaya, bahwa setelah peristiwa RMS tidak dapat diselesaikan melalui perundingan, pemberontakan yang berdiri sendiri, setelah Negara Bagian Indonesia Timur setuju bersatu dalam Republik Kesatuan, harus ditumpas dan pasti dapat ditumpas olehTNI. Tapi umumnya orang tidak mengira, bahwa akan ada kelanjutannya berupa gerakan di negeri Belanda. Sebenarnya marhum Dr. Leimena dalam suatu Sidang Kabinet, masih di zaman RIS, telah mengingatkan kepada kita, bahwa persoalan RMS akan mempunyai ekor yang panjang. Dengan suara yang tenang dan ramah marhum berkata dalam bahasa Belanda :
“Dit muisje zal nog een staartje hebben.”
Barangkalli karena sering harus menjalankan tugas-tugas Negara yang penting, maka marhum menjadi seorang perasa, yang, karena terus-menerus memikirkan masalahnya, mempunyai penglihatan yang tajam jauh ke depan. Sampai waktu-waktu terakhir, ketika datang di negeri Belanda, mendiang masih dengan kesungguhan hati bersedia melibatkan diri dalam usaha menyerasikan masalah pengikut-pengikut republik khayalan ini. Demikian rasa tanggungjawabnya terhadap soal kesatuan dan persatuan bangsa.
Jika penulis di sini mencoba menggambarkan kesungguhan hatinya terhadap kepentingan Negara dan rakyatnya, maksudnya bukan memberi kesan, bahwa marhum adalah orang yang bermuka suram. Sebaliknya, dalam pertemuan biasa, kesan yang kita peroleh dari padanya, ialah seorang peramah. Dalam pertemuan biasa marhum dengan ramah-tamah bicara tentang keadaan keluarga, bercakap-cakap dengan santai dan menenangkan, kalau ada yang bicara tentang keadaan keluarga, bercakap-cakap dengan santai dan menenangkan, kalau ada yang bicara tentang adanya keresahan, malahan bersedia untuk bergurau.
Di atas telah dikatakan, bahwa Indonesia, yang untuk mencapai kemerdekaan terpaksa melalui jalan revolusi fisik, sebagai akibatnya menghadapi lebih banyak macam-macam peristiwa setelah penyerahan kedaulatan oleh Belanda, dibandingkan dengan India atau Malaysia, yang begitu saja memperoleh kemerdekaan. Tapi kita memang tidak pernah merasa menyesal tentang pilihan jalan itu, karena tidak ada alternatif lain. Belanda tidak akan memberi kemerdekaan begitu saja kepada Indonesia, karena mereka sebagai negara penjajah tidak dapat disamakan dengan Inggris di bawah PM Attlee. Mereka mempunyai proyek yang ortodox, seperti telah nampak sepanjang jalannya revolusi fisik yang hampir lima tahun itu. Penulis sering membicarakan hal itu dengan marhum Leimena, sebab Kabinet RIS bukan buat pertama kali merupakan kesempatan kerjasama. Sebelum itu penulis pernah kerjasama dalam satu kabinet dengan marhum, yaitu dalam kabinet Amir Sjarifuddin. Situasinya pada waktu itu lebih suram, dan juga lebih seram. Suram, karena  sekalipun sudah ada perjanjian Linggarjati, tentang pelaksanaannya ada perbedaan paham. Seram, karena Belanda hendak mendesakkan penafsirannya sendiri dan kalau Republik tidak sedia menerimanya, hal itu akan berarti perang. Memang kita menghadapi bahaya pertama, yang Belanda menamakannya “politionele actie”.
Setelah Kabinet Sjahrir ke-III jatuh, dibentuk Kabinet baru di bawah pimpinan Amir Sjarifoeddin. Marhum Dr. Leimena menjadi Menteri Kesehatan, penulis Menteri Muda Perburuhan. Kabinet Sjahrir jatuh karena Sayap Kiri, pendukung utama kabinet tersebut pecah. Sebagian tidak dapat menerima kebijaksanaan Sjahrir, yang dianggap terlalu jauh memberi konsesi kepada pihak Belanda.
Sebenarnya memang ada selisih antara Belanda dan kita tentang penafsiran beberapa kata dalam perjanjian Linggarjati, hingga timbul tuduh-menuduh dalam pelaksanaan. Mendadak Belanda mengirim surat yang menetapkan sepihak penafsiran mereka yang harus diterima oleh Republik. Kalau tidak diterima, berarti perang. Menurut konsepsi Belanda, sebelum penyerahan kedaulatan kepada suatu Negera Federal, Belanda yang melakukan pemerintahan sementara. Meskipun perjanjian jelas menganggap Belanda dan Republik sebagai dua pihak dalam perjanjian, pembentukan negara-negara bagian dilakukan dengan pimpinan Belanda saja, dan Republik harus membantu. Kata “cooperation” tidak diartikan, bahwa Belanda dan Republik dua-duanya menjadi sponsor dalam membentuk negara-negara bagian lainnya. Kalau Sjahrir menerima semua ini, rasanya koneksi yang diberikan memang amat banyak. Tapi sebenarnya yang keterlaluan sikap Belanda. Memang ada perbedaan penafsiran tentang beberapa kata dalam perjanjian. Hal itu sudah diketahui umum, diketahui KNIP, diketahui parlemen Belanda.
Mestinya ada sikap yang lebih sabar, lebih luwes. Tapi 25 Maret 1947 perjanjian ditandatangani, 27 Mei 1947 ultimatum: Kapitulasi atau perang.
Dalam sidang pertama Kabinet Amir, yang terbentuk pada 3 Juli 1947, Perdana Menteri memberi penjelasan tentang keadaan Negara yang sangat genting itu. Sekaligus diberitahukan, bahwa Pemerintah telah mengutus Wakil Perdana Menteri Setiadjit untuk berunding dengan Van Mook. Sebagian besar dari anggota Kabinet sebenarnya sudah mengetahui pokok-pokok kedudukan perkaranya. Maka dari itu banyak yang tidak mengerti, apa perlunya mengirim utusan Kabinet ke Jakarta. Marhum Ali Sastroamidjojo yang kedudukannya Menteri P & K juga menanyakan dalam Sidang itu, apa yang akan dirundingkan dengan Belanda, kalau sikap mereka sudah terang-terang ultimatif. PM menjawab pertanyaan ini dengan mengatakan, bahwa masih ada kemungkinan-kemungkinan yang perlu dijajaki, dan untuk memperlihatkan kemauan baik kita. Sementara itu diusahakan mendapat hubungan telepon dengan Jakarta. Akhirnya kita dapat jawaban dari Setiadjit, bahwa Belanda tetap pada pendirian-pendiriannya, malahan menganjurkan supaya kita menerima saja usul-usulnya yang tidak dapat ditawar lagi itu.
Marhum Dr. Leimena yang juga duduk dalam Kabinet Sjahrir sudah barang tentu lebih mengetahui secara mendalam pertentangan Indonesia – Belanda yang menggenting itu, tapi dalam Sidang tidak mengeluarkan suara. Tapi ini bukan berarti, bahwa penulis tidak sempat banyak bertukar pikiran dengan marhum tentang latar belakang perkembangannya. Kita umumnya bertanya-tanya bagaimana mungkin Belanda hanya dua bulan sesudah perjanjian Linggarjati ditandatangani secara resmi, mendadak sikapnya begitu garang. Harus diakui, bahwa kedudukannya memang cukup kuat.
Daerah Indonesia yang diduduki atau dipengaruhi cukup luas. Tentaranya berangsur-angsur tapi cepat diperkuat, senjatanya bertambah banyak dan alat transpor militer berlipat ganda. Semua pelabuhan berlaut dalam (deep sea) dikuasai, hingga dapat mengadakan blokade ekonomis lebih rapat. Berdasarkan kemajuan-kemajuan ini, barangkali mereka berpendapat, bahwa mereka dapat mematahkan perlawanan Republik dalam waktu singkat. Tapi hanya dengan perhitungan itu saja, mereka mustahil merobah sikapnya menjadi begitu keras.
“Itulah yang menjadi pikiran”, kata marhum Leimena dalam suatu pertemuan. Kelihatannya Van Mook sebelumnya sudah menemui Jendral Marshall di Amerika. Yang menjadi pembicaraan sebenarnya berpangkal pada bantuan Amerika kepada Negara Belanda, yang sudah direncanakan. Karena sebagian dari bantuan disediakan untuk kepentingan Indonesia, dengan sendirinya pembicaraan juga menyinggung soal penyelesaian Indonesia. Nampak Amerika menyetujui program Belanda untuk memberikan kedaulatan de jure kepada Belanda dalam masa peralihan sebelum kedaulatan diserahkan kepada Indonesia.
“Hal ini yang lebih menyuramkan keadaan kita”, kata marhum lagi, “karena itu Belanda berani bicara dengan ultimatum”.
Dalam pertemuan dengan Menteri-menteri yang tidak ikut duduk dalam Kabinet Sjahrir sebelumnya marhum Leimena menceritakan, bahwa ada dua macam dorongan untuk memberi konsesi sejauh mungkin.
Pertama : karena Belanda benar-benar bersedia berperang, berhubung proyeknya dapat persetujuan dari pihak Amerika.
Kedua : keadaan rakyat berat; dikhawatirkan perlawanan sudah mengurang. Sebaliknya perlu dipertanyakan, kalau kepada Belanda diberi kedaulatan de jure selama masa peralihan sampai penyerahan kedaulatan yang sebagai ancer-ancer ditetapkan 1 Januari 1949, maka apa yang tersisa dari sikap bangsa Indonesia untuk memilih jalan revolusi terhadap nafsu Belanda untuk menjajah kembali.
Tentu Belanda yang diakui sebagai pemimpin dalam usaha pembentukan negara-negara bagian akan melakukannya menurut rencananya. Republik yang hanya membantu dalam usaha itu dan dipersamakan dengan negara-negara bagian lainnya akan ditetapkan oleh Belanda segala sesuaatu mengenai wewenang-wewenangnya, jatah perwakilannya dalam pemerintahan federal peralihan. Hubungan ke luar dengan negara-negara kawan akan hilang, semua akal mendapat devisa dihentikan. Alhasil yang kita capai hanya Pemerintah Federal Jajahan terselubung dengan dominasi Belanda.
Melalui pertemuan-pertemuan semacam ini mendiang Dr. Leimena mendengar pendapat-pendapat baru yang mendapat kesungguhan hatinya untuk memikirkan jalan ke luar.  Diajukannya pikirannya, bahwa keadaan rakyat sudah berat. Di beberapa bagian pasukan TNI sudah kekurangan amunisi. Memang harus diakui, bahwa keadaan berat. Rakyat setelah menderita di zaman pendudukan Jepang, belum sempat mendapat keringanan dan waktu istirahat. Revolusi melawan Belanda niscaya meletakkan beban-beban baru. Berhubung dengan itu kita cenderung untuk mencegah dengan segala jalan beban-beban tambahan bagi rakyat akibat serbuan Belanda.
Bersamaan dengan marhum Leimena dalam pertemuan itu dianalisa lebih lanjut perjuangan di antara cara-cara perjuangan lain. Kita setuju mengambil jalan perundingan untuk memperlihatkan kepada Belanda dan dunia luar, bahwa kita ini bukan bangsa yang suka perang. Tapi bangsa Indonesia bersedia bertempur, kalau Belanda hendak memaksakan kemauannya untuk menjajah kembali. Keadaan Indonesia sesudah perang dunia II sudah lain, bangsa Indonesia mental juga sudah berubah. Pemerintah selama ini, sejak Proklamasi Kemerdekaan, membina Negara Republik dan mempertahankan kemerdekaannya.
Cara perjuangan kedua ialah dengan kekerasan secara perang gerilya. Karena Belanda dengan paksa menyerbu dan memperluas kedudukannya di bagian daerah Indonesia, di mana-mana ada gangguan dan perlawanan dari TNI atau laskar. Perang Gerilya ini dilakukan terus menerus, tidak perduli ada gencatan senjata, karena sikap Belanda selalu mencurigakan dengan usahanya untuk terus menerus memperkuat diri.
Cara perjuangan ketiga dilakukan oleh pejabat, pegawai dan buruh yang setia kepada Republik dan menolak bekerja pada Belanda. Buruh ini, jika Belanda menyerang, akan sedia menjalankan sabotage atau bumi hangus. Golongan ketiga ini tetap bertahan.
Cara perjuangan keempat dilakukan oleh lapisan rakyat luas, yang selalu siap menyumbang bantuan kepada kaum pejuang, terutama bertempat tinggal di desa-desa dan terdiri dari kaum petani.
Yang penting ialah mempelajari sungguh-sungguh, apa yang akan terjadi dengan empat cara perjuangan ini, kalau pecah perang terbuka. Karena Belanda sudah mulai dengan ultimatum-ultimatum maka sebenarnya cara perjuangan dengan perundingan sudah lewat untuk dimulai lagi kalau kesempatan untuk itu terbuka kembali. Belanda mengira, bahwa mereka akan cepat mencapai maksudnya dengan perang, menolak jalan perundingan. Yang penting ialah apa yang akan terjadi dengan tiga cara perjoangan lainnya, bagaimana daya tahan serta keuletannya.
Setelah Menteri-menteri mempelajari laporan Setiadjit dan jawaban Pemerintah kita terhadap tuntutan Belanda, maka diadakan Sidang Kabinet untuk membicarakan tindakan-tindakan apa yang selanjutnya harus diambil. Kesannya ialah, bahwa Pemerintah memberi lebih banyak konsesi lagi, dibanding dengan yang diberikan oleh Sjahrir. Tapi nampaknya memang yang diajukan kepada Sjahrir itu belum semua tuntutan. Sudah terasa, bahwa Belanda hendak mengarah kepada pembentukan Pemerintah Federal kolonial terselubung.
Mereka menuntut dan Republik menerima kekuasaan de jure Komisaris Tinggi Belanda dalam Pemerintahan interim selama masa peralihan dan Pemerintah peralihan terdiri dari wakil-wakil Pemerintah Belanda serta wakil-wakil Negara-negara Bagian yang akan dibentuk. Seterusnya tuntutan yang didesakkan, dan kita terima, lebih merinci, yaitu mengenai perusahaan asing dalam Republik dan bea cukai.
Tapi ada satu tuntutan yang bagaimanapun tidak mungkin diterima Republik, yaitu desakan Belanda untuk diadakan gendarmeri, badan kepolisian bersama dalam Republik, terdiri separo dari tenaga Belanda dan separo dari tenaga Indonesia.
Gendarmeri ini maksudnya menjaga ketertiban umum di daerah Republik. Kita tahu alasan Belanda mengajukan tuntutan ini, yang menurut mereka dianggap sangat penting. Pengawasan Republik terhadap pejuang-pejuang yang bersikap keras menurut Belanda kurang kuat. Dengan demikian kita sudah memperhitungkan, bahwa dengan konsesi-konsesi yang begitu jauh seperti tersebut di atas, masih tidak akan dapat tercapai persetujuan dengan Belanda, jika Republik tidak menyetujui gendarmeri.
Maka dari itu terus dipertimbangkan tindakan-tindakan apa yang harus dilakukan, jika kita menghadapi perang. Pertama-tama Presiden dan keluarga harus diungsikan, bersama dengan separo dari Kabinet. Tempat pengungsian itu sangat aman, dan pada waktu itu tentu saja dirahasiakan. Perdana Menteri dan dua Wakil Perdana Menteri serta kira-kira separo dari anggota-anggota Kabinet lainnya tinggal di ibukota, artinya menghadapi di garis muka serbuan Belanda. Perhitungannya ialah, kalau sebagian besar dari mereka tewas atau tertangkap musuh, separo Kabinet yang sementara disimpan di tempat aman itu, akan melanjutkan pimpinan Negara. Tentunya juga diperhitungkan, bahwa Perdana Menteri dan Wakil-wakil Perdana Menteri tetap hidup dan bebas, untuk membina hubungan. Penulis tidak ingat, apakah marhum Dr. Leimena ikut diungsikan. Penulis termasuk bagian Kabinet yang tetap tinggal di Yogya. Tidak bertemu, karena masing-masing sibuk membuat persiapan. Tiap Menteri yang tetap tinggal dan memimpin pemerintahan tentu saja harus menjual jiwanya semahal-mahalnya. Dokumen-dokumen Departemen yang penting harus diamankan.
Kalau keadaan menggenting, tenaga-tenaga penting tidak lagi akan di kantor.
Setelah Belanda mengetahui, bahwa Republik tetap menolak tuntutannya mengenai gendarmeri, maka atas anjuran Van Mook, pada tanggal 20 Juli 1947 Perdana Menteri Beel memerintahkan tentara Belanda mengadakan serangan penuh dengan tujuan menghancurkan Republik. Tadinya tentara Belanda mengadakan serangan besar, diperkuat dengan tank-tank dan pesawat-pesawat tempur dari pangkalnya di Jawa dan Sumatera.
Dalam dua minggu Belanda sudah dapat merebut kota-kota penting di Jawa Barat dan Jawa Timur dan satu dua tempat di Sumatera. Akan tetapi mereka tidak dapat menghancurkan tubuh TNI yang menjalankan perang gerilya.
Menjalankan perang gerilya berarti menyingkiri jalan-jalan yang dapat dilalui tank, menyamping masuk hutan-hutan dan pedesaan, atau naik bukit-bukit dengan tumbuh-tumbuhan pohon yang padat. Dari tempat-tempat baru itu TNI dan laskar-laskar menyerang tentara Belanda di kota-kota dan jalan-jalan hubungan penting antara kota-kota di waktu-waktu yang ditentukan sendiri. Dengan demikian Belanda tidak dapat mencapai tujuannya yang pertama, yaitu menangkap pimpinan TNI atau pasukan gerilya, karena tentaranya tidak pernah berhadap-hadapan dengan mereka. Berbarengan dengan itu pejabat, pegawai dan buruh yang setia kepada Republik tetap menolak kerjasama dengan Belanda, di sana-sini menjalankan sabotage dan bumi hangus. Akhirnya lapisan rakyat luas, terutama di desa-desa senantiasa memberi bantuan yang diperlukan para pejuang. Jadi tiga cara perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan berjalan terus, hanya jalan perundingan saja yang berhenti.
Pengertian tentang perjuangan kita tidak lengkap, kalau tidak ditinjau juga pengaruh dari luar, yang datang dari peranan PBB atau Negara-negara besar. Yang paling penting tentu daya juang dan merugikan, ada kalanya juga menguntungkan. Pada masa pergolakan perang kolonial Belanda pertama, peranan Dewan Keamanan PBB meragukan dan berjalan lamban.
Pada tengah malam tanggal 4 menjelang 5 Agustus 1947, PM Beel memberi perintah kepada Van Mook untuk menghentikan perang berdasarkan resolusi Dewan Keamanan. Republik kemudian menyusul memberi perintah gencatan senjata. Akan tetapi karena tiada pengawasan yang efektif terhadap gencatan senjata itu, maka Belanda terus memperluas daerah pendudukannya di kiri-kanan jalan-jalan atau lingkungan kota-kota yang dikuasai untuk membulatkan menjadi daerah yang luas dengan batas-batas laskar juga tiada alasan untuk menghentikan serangan secara gerilya. Gerakan non-cooperation dan sabotage juga jalan terus, sedang lapis rakyat yang membantunya tidak mengurang.
Usaha Dewan Keamanan mencari cara menyelesaikan pertikaian politiknya akhirnya berhasil dengan dibentuknya Komisi Tiga Negara. Belanda memilih Belgia, Indonesia memilih Australia, dan wakil-wakil dua negara itu memilih Amerika.
Kita sudah merasa, bahwa perkembangan melalui KTN akan merugikan. Komisi itu tidak diberi wewenang yang cukup. Wakil Australia dan Amerika sama sekali tidak dihormati oleh Belanda. Dalam perundingan Belanda hanya berpegang kepada pendirian-pendiriannya seperti yang dirumuskan sendiri. Di luar perundingan mereka membentuk negara-negara bagian menurut rencananya sendiri, seperti Jawa Barat, Sumatera Utara dan Madura, dengan meremehkan KTN, mereka berkeyakinan, bahwa Amerika memihak mereka.
Kesemuanya ini penulis dapat mendengar lebih jelas dari marhum Dr. Leimena, karena marhum menjadi anggota delegasi Republik dalam perundingan yang menghasilkan Renville Agreement. Jadi setelah diumumkan, bahwa Dewan Keamanan memutuskan, supaya pada awal Agustus 1947 diadakan gencatan senjata, maka bagian Kabinet yang tetap di Yogya di bawah pimpinan PM berangkat ke Kandangan, tempat perkebunan di pegunungan di atas Madiun, untuk bersidang dengan Presiden dan para Menteri lainnya. PM di muka corong radio di Kandangan itu mengumumkan, bahwa Republik menerima resolusi Dewan Keamanan.
Sejak itu perkembangan  di negara dipimpin oleh Kabinet lengkap. Kita umumnya sangat prihatin memikirkan keadaan Negara dan rakyatnya. Daerah yang kita kuasai adalah daerah minus. Sekarang sudah makin kurang tekstil, obat-obatan dan suku cadang.
Tambah-tambah persetujuan Renville merugikan. Persetujuan Renville menyebabkan Kabinet Amir jatuh, diganti oleh Kabinet yang dipimpin oleh Wakil Presiden sendiri.
Sementara itu Belanda ternyata melanjutkan rencananya untuk membentuk Pemerintahan interim. Mula-mula memang Belanda mengira, bahwa waktu ada pada pihak mereka. Karena blokade ekonomi yang mereka lakukan terhadap daerah minus yang tinggal pada kita, mereka perhitungkan  bahwa Republik akan ambruk dengan perundingan.
Almarhum Dr. Leimena dan penulis seringkali membicarakan, bahwa dua-duanya baik Belanda maupun Republik sedang diuji kesabaran dan keuletannya. Sebab cara perjuangan bangsa kita, baik perang gerilnya dan non cooperation maupun daya tahan lapisan rakyat yang setia membantu, jalan terus. Dan sekarang jalan perundingan terbuka kembali, meskipun Belanda senantiasa menyingkirnya.
Namun Republik masih harus menghadapi percobaan baru. Sedang Kabinet Hatta sangat prihatin merasakan keadaan masyarakat, dan juga tidak berhasil untuk mengajak pihak Belanda ke meja perundingan melalui KTN, terjadi pemberontakan Madiun di bawah Amir Sjarifoeddin dan Moeso. Untungnya dengan sebagian dari tenaga TNI pemberontakan itu dapat dituntas. Bagian penting lainnya perlu terus menjaga garis Van Mook dan tetap melakukan perang gerilya melawan Belanda.
Menurut marhum Dr. Leimena bagian sejarah bangsa kita sejak kegentingan menghadapi perang koloial pertama sampai dengan kejadian-kejadian sesudah perang kolonial kedua, merupakan bagian yang paling banyak memberi pelajaran untuk merumuskan sistim pertahanan rakyat. Dengan memakai pikiran-pikiran yang logis rasional saja, ada kalanya kita merasa putus asa. Dari data yang kita ketahui, daerah Republik yang mengecil karena kita menerima garis Van Mook merupakan daerah minus yang serba kurang. Kurang tekstil dan kurang obat-obatan, kurang amunisi dan kurang suku cadang. Tapi realitasnya, perlawanan rakyat kita tetap berjalan terus. Setelah Belanda menduduki Yogya dengan perang kolonialnya yang kedua mereka mengeluh masih terus ada gangguan gerilya, mereka tidak mendapat pegawai Indonesia dan tidak mendapat persediaan beras cukup karena rakyat tidak bersedia menjual berasnya kepada Belanda sebab menolak uang federal. Mereka dapat membawa Presiden, Wakil Presiden dan beberapa Menteri ke Bangka, tapi perjuangan gerilya, non-cooperation dan bantuan rakyat kepada pejuang berjalan terus.
“Maka dari itu,” kata marhum Leimena, “Kita tidak boleh mengukur keadaan secara umum saja, tapi melihat benar-benar realitas perlawanan rakyat.” Sebenarnya tidak saja Republik, tapi juga Belanda diuji tentang kesabaran dan keuletannya. Dan Belandalah ternyata yang gugup dan menyerang dengan perang kolonial kedua. Akibatnya reaksi dunia dan reaksi PBB serta Amerika berobah. Belanda secara menyolok yang melanggar putusan Dewan Keamanan.
Kongres Amerika mengancam akan menahan bantuan kreditnya kepada Belanda, Bahwa Pemerintah Republik dapat pulang ke Yogya, dan tentara Belanda harus mengosongkannya, merupakan permulaan kemenangan Republik dan membuka jalan ke perundingan baru di KMB.
Almarhum Dr. Leimena masih beberapa kali dengan penulis berada dalam ikatan kerjasama sebagai pejabat negara, dalam Kabinet RIS, dan dalam kabinet yang diketuai penulis sendiri. Tapi juga di Pimpinan Konstituante untuk beberapa waktu dan di Dewan Pertimbangan Agung yang dua-duanya kebetulan juga diketuai oleh penulis. Di waktu senggang selama berkali-kali bekerjasama itu, banyak sekali kita bicarakan pengalaman kita bersama dalam bagian sejarah tentang perang-perang kolonial itu, karena mengandung banyak pelajaran.
Mendiang Doctor Johannes Leimena pada 6 Maret 1980 akan mencapai usia 75 tahun. Terkenang kembali semua pemikiran bersama tentang perjalanan Negara kita dan rakyatnya. Mudah-mudahan mendiang mendapat tempat yang lapang di sisi Tuhan.

Sekilas Sejarah Film Indonesia


Awal Sinema Indonesia (1926-1949)

Pada masa penjajahan Belanda sekitar tahun 1900-an masyarakat kita sudah mengenal adanya film atau yang lebih dikenal dengan “Gambar Hidoep”. Hal ini dibuktikan dengan adanya koran Bintang Betawi No.278, 5 Desember 1900 yang memuat iklan bioskop. Seni pertunjukkan film pada masa itu diselenggarakan oleh orang Belanda. Jenis bioskop terbagi menjadi tiga golongan berdasarkan status penonton, yaitu bioskop untuk orang Eropa, bioskop orang menengah, dan golongan orang pinggiran. Pada tahun 1925 sebuah artikel di koran masa itu, De Locomotif, memberi usulan untuk membuat film. Pada tahun 1926 dua orang Belanda bernama L. Heuveldorp dan G.Kruger mendirikan perusahaan film, Java Film Coy di Bandung dan pada tahun yang sama mereka memproduksi film pertamanya berjudul Loetoeng Kasarung (1926), yang diangkat dari legenda Sunda. Film ini tercatat sebagai film pertama yang diproduksi di Indonesia dan ini dianggap sebagai sejarah awal perfilman Indonesia. Film ini diputar perdana pada 31 Desember 1926. Film berikutnya yang diproduksi adalah Eulis Atjih (1927) berkisah tentang istri yang disia-siakan oleh suaminya yang suka foya-foya.
Dalam perkembangan berikutnya banyak bermunculan studio film yang dinominasi oleh orang-orang Cina. Pada tahun 1928 Wong Brothers dari Cina (Nelson Wong, Joshua Wong, dan Othniel Wong) mendirikan perusahaan film bernama Halimun Film dan memproduksi film pertamanya Lily Van Java (1928). Film ini berkisah tentang seorang gadis Cina yang dipaksa untuk menikah dengan laki-laki pilihan orangtuanya, padahal ia telah memiliki kekasih. Film ini sendiri kurang disukai oleh penonton pada masa itu. Wong Brothers akhirnya mendirikan perusahaan film baru bernama Batavia Film. Selain Wong Brothers, ada pula Tan’s Film, Nansing Film dan perusahaan milik Tan Boen Swan. Nansing Film dan perusahaan Tan Boen Swan memproduksi Resia Borobudur (1928) dan Setangan Berloemoer Darah (1928).
Setelah L.Heuveldorp menarik diri, G.Kruger mendirikan perusahaan film sendiri bernama Kruger Filmbedriff, yang memproduksi, Karnadi Anemer Bangkong (1930) dan Atma De Visher (1931). Selain itu orang Belanda lainnya yaitu F.Carli yang mendirikan perusahaan film bernama Cosmos Film Corp atau Kinowerk Carli yang memproduksi De Stem des Bloed (Nyai Siti, 1930) yang berkisah mengenai orang Indo, lalu juga Karina’s Zelfopoffering (1932). Sedangkan Tan’s Film dan Batavia Film pada tahun 1930 memproduksi Nyai Dasima (1930), Si Tjonat (1930), Sedangkan Halimun film memproduksi Lari Ke Arab (1930).
Masuk era film bicara, tercatat dua film tercatat sebagai film bicara Indonesia pertama adalah Nyai Dasima (1931) yang di-remake oleh Tan’s Film serta Zuster Theresia (1931) produksi Halimun Film. Masa ini juga muncul The Teng Chun yang mendirikan perusahaan The Teng Chun ”Cino Motion Pict” dan memproduksi Boenga Roos dari Tjikembang (1931) dan Sam Pek Eng Tai (1931). Sasarannya adalah orang-orang Cina dan kisahnya pun masih berbau budaya Cina. Sementara Wong Brothers juga memproduksi Tjo Speelt Voor de Film (1931). Sedangkan Kruger dan Tans’s berkolaborasi memproduksi Terpaksa Menikah (1932). Di penghujung tahun 1932 beredar rumor kuat akan didirikan perusahaan film asal Amerika. Semua produser menjadi takut karena tak akan bisa menyaingi dan akhirnya Carli, Kruger dan Tan’s Film berhenti untuk memproduksi film. Studio yang masih bertahan adalah Cino Motion Picture.
Beberapa tahun setelahnya muncul seorang wartawan Albert Balink yang mendirikan perusahaan Java Pasific Film dan bersama Wong Brothers memproduksi Pareh (1935). Film ini dipuji pengamat namun tidak sukses komersil. Balink dan Wong akhirnya sama-sama bangkrut. Pada tahun 1937, Balink mendirikan studio film modern di daerah Polonia Batavia yang bernama ANIF (Algemeene Nederland Indie Film Syndicaat) dan memproduksi Terang Boelan/Het Eilan der Droomen (1937). Film ini berkisah tentang lika-liku dua orang kekasih di sebuah tempat bernama Sawoba. Sawoba adalah sebuah tempat khayalan yang merupakan singkatan dari SA(eroen), Wo(ng), BA(link) yang tak lain adalah nama-nama penulis naskah, penata kamera, editor, dan sutradaranya sendiri. Walau meniru gaya film Hollywood The Jungle Princess (1936) yang diperankan Dorothy Lamoure namun film ini memasukkan unsur lokal seperti musik keroncong serta lelucon yang diadaptasi dari seni panggung. Film ini sukses secara komersil dan distribusinya bahkan sampai ke Singapura. Pemeran utama wanitanya, Rockiah setelah bermain di film ini menjadi bintang film paling terkenal pada masa itu. Kala ini Terang Boelan (1937) adalah film yang amat populer sehingga banyak perusahaan yang menggunakan resep cerita yang sama.
Pada tahun 1939 banyak bermunculan studio-studio baru seperti, Oriental Film, Mayestic Film, Populer Film, Union Film, dan Standard Film. Film-film populer yang muncul antara lain Alang-alang (1939) dan Rentjong Atjeh (1940). Pada masa ini pula kaum pribumi mulai diberi kesempatan untuk menjadi sutradara yang perannya hanya sebagai pelatih akting dan dialog. Justru yang paling berkuasa pada masa itu adalah penata kamera yang didominasi orang Cina. Pada era ini pula muncul kritik dari kalangan intelek untuk membuat film yang lebih berkualitas yang dijawab melalui film, Djantoeng Hati (1941) dan Asmara Moerni (1941). Para pemain dari kedua film ini didominasi kaum terpelajar namun karena dirasa terlalu berat, para produsen film akhirnya kembali ke tren awal melalui film-film ringan seperti Serigala Item (1941), Tengkorak Hidup (1941).
 Pada akhir tahun 1941, Jepang menguasai Indonesia. Semua studio film ditutup dan dijadikan media propaganda perang oleh Jepang. Jepang mendirikan studio film yang bernama Nippon Eiga Sha. Studio ini banyak memproduksi film dokumenter untuk propaganda perang. Sementara film cerita yang diproduksi antara lain Berdjoang (1943) yang disutradarai oleh seorang pribumi, Rd. Arifin namun didampingi oleh sutradara Jepang, Bunjin Kurata. Pasca kemerdekaan RI pada tahun 1945, studio film milik Jepang yang sudah menjadi kementerian RI direbut oleh Belanda dan berganti nama Multi Film. Film-film yang diproduksi antara lain Djauh Dimata (1948) dan Gadis Desa (1948) yang diarahkan oleh Andjar Asmara. Di era ini pula muncul nama Usmar Ismail yang kelak akan menjadi pelopor gerakan film nasional. Pada tahun ini pula, 1949, para produser Cina lama mulai berani mendirikan studio lagi. The Theng Chun dan Fred Young mendirikan Bintang Surabaja. Tan Koen Youw bersama Wong mendirikan Tan & Wong Bros. Salah satu film produksi Tan & Wong Bros yang populer adalah Air Mata Mengalir Di Tjitarum (1948).
Era 1950-1980an

Pada tahun 1950 dibentuklah Perfini (Perusahaan Film Nasional). Perfini merupakan perusahaan film pertama milik pribumi. Beberapa bulan kemudian dibentuk pula Persani (Perseroan Artis Indonesia).  Film pertama produksi Perfini adalah Long March Of Siliwangi atau Darah dan Doa (1950) yang disutradarai oleh Usmar Ismail. Syuting pertama film film ini tanggal 30 Maret 1950, kelak ini dijadikan sebagai hari film nasional. Sementara produksi besar lainnya adalah ”Dosa Tak Berampun” (1951). Dalam dua tahun saja, Persani telah memiliki studio yang mewah dan megah. Studio ini merupakan studio film terbesar di Indonesia kala itu. Usmar Ismail dan Djamaludin Malik nantinya akan ditetapkan sebagai Bapak Perfilman Nasional (resmi pada tahun 1999).
Antara tahun 1954-1955 Perfini mengalami krisis finansial. Film arahan sutradara Usmar Ismail, Krisis (1953) walau sukses komersil namun tetap saja tak mampu menutup hutang bank. Pada masa ini pula muncul kritik terhadap film-film produksi studio milik orang Cina yang memproduksi film bermutu sangat rendah. Salah satunya adalah film Tans & Wong berjudul Topeng Besi (1953) yang diproduksi dengan biaya sangat murah. Namun di sisi lain, film-film dalam negeri juga bisa mulai bersaing dengan film-film impor dari Malaysia, Filipina, dan India.
Pada Tahun 1954, Usmar dan Djamaludin mempelopori berdirinya PPFI (Persatuan Perusahaan Film Nasional), lalu juga menjadi anggota FPA (Federatuion Of Motion Picture Produsers in Asia). Persani dan Perfini bersama-sama memproduksi film Lewat Djam Malam (1954) disutradarai oleh Usmar Ismail. Film ini bercerita tentang mantan pejuang kemerdekaan yang menghadapi kekecewaan terhadap orang-orang seperjuangannya yang berubah menjadi seseorang yang tidak mewujudkan cita-cita kemerdekaan yang telah mereka perjuangkan dengan susah payah. Konon film ini akan dikirim ke Festival Film Asia di Tokyo namun pemerintah Indonesia melarang karena masa itu kita tengah konflik dengan pemerintah Jepang.
 Pada tahun 1955 PPFI untuk pertama kalinya menyelenggarakan Festival Film Indonesia (FFI) tercatat merupakan festival film pertama yang diselenggarakan di tanah air. Terpilih film terbaik adalah Lewat Djam Malam (1954). Namun sayangnya Usmar Ismail tidak mendapat penghargaan apa pun dalam ajang ini. Film ini rencananya akan diputar di festival film Cannes pada 16-27 Mei 2012 setelah direstorasi penuh. Pada tahun 1955 film produksi Perfini Tamu Agung (1955) mendapat penghargaan  khusus komedi terbaik pada ajang bergengsi Festival Film Asia.
Sejarah juga mencatat awal bulan Maret tahun 1956 para pemain dan pekerja film membentuk PARFI (Persatuan Artis Film Nasional). Pada tahun 1957, PPFI memutuskan untuk menutup studio film mereka karena tak ada dukungan dari pemerintah kala itu. Djamaludin Malik ditangkap tanpa alasan yang jelas. Studio Perfini disita bank karena tidak mampu membayar hutang. Setelah diadakan perundingan dengan pemerintah pada tanggal 26 April 1957 akhirnya studio dibuka kembali. Namun kondisinya tidak seperti dulu dan kondisi perfilman nasional menjadi lumpuh. Hasil negoisasi dengan pemerintah berupa janji pemerintah akan adanya kementerian khusus untuk membina para insan film baru dipenuhi pemerintah 7 tahun setelahnya.
 Pada masa bersamaan sekitar tahun 1957 kondisi politik di Indonesia didominasi golongan komunis PKI atau sering disebut golongan kiri. Golongan kiri juga ingin menguasai dunia perfilman kala itu. Mereka mendirikan Sarfubis (Sarikat Buruh Film dan Sandiwara) namun kelompok ini tidak efektif di pasaran. Kala itu juga terjadi pertikaian antara PARFI dan golongan kiri. Usmar Ismail  dan Djamaludin Malik sangat antipati dengan komunis. Sementara golongan kiri mengganggap kematian film nasional disebabkan impor film Amerika ke Indonesia. Golongan kiri juga menuduh Usmar Ismail sebagai agen Amerika. Walaupun kondisi perfilman Nasional semakin krisis, beberapa film masih diproduksi. Usmar Ismail pada tahun 1956 mengarahkan Tiga Dara (1957) yang dirilis setahun setelahnya.
Pada tahun 1960-an dunia perfilman di Indonesia pecah menjadi dua blok, yakni golongan Usmar dan rekan-rekannya dengan golongan kiri. Pada tahun 1962, Djamaludin Malik yang telah bebas dari penjara, menyelenggarakan FFI yang kedua serta mendirikan LESBUMI (Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia) dengan Ketua Umum Usmar Ismail. Film-film populer yang muncul di masa pelik ini antara lain Pedjoang (1960) dan Anak-anak Revolusi (1964) karya Usmar Ismail. Pada tahun 1961, Pedjoang mendapat penghargaan pemeran pria terbaik (Bambang Hermantpo) di ajang Festival Film International di Moskow. Film fenomenal lainnya adalah Pagar Kawat Berduri (1961) dan Tauhid (1964) karya Asrul Sani. Golongan kiri menuntut agar film Pagar Kawat Berduri (1961) ditarik dari peredaran, karena dianggap dapat membuat orang bersimpati pada Belanda. Lalu juga ada Piso Surit (1960) dan Violtta (1962) karya Bahctiar Siagian, serta Matjan Kemayoran (1965) karya Wim Umboh.
Pada tahun 1964 untuk pertama kalinya diadakan Festival Film Asia Afrika (FFAA) di Jakarta. Golongan kiri yang menguasai seluruh kepanitiaan FFAA mencetuskan berdirinya PAPFIAS (Panitia Aksi Pemboikotan Film Imperialis Amerika). Tujuan PARFIAS adalah melarang beredarnya film-film produksi Amerika dan sekutunya di bioskop-bioskop Indonesia. Kondisi ini membuat bioskop-bioskop lokal dipenuhi film-film asing dari Rusia, Eropa Timur, dan RRC. PARFIAS sendiri juga tak mampu menggangkat perfilman Indonesia, sehingga kondisi bioskop kala itu sepi pengunjung.
Setelah PKI ditumpas,kondisi industry film kita sedang mati suri maka untuk mengangkat perfilman nasional, sejak tahun 1967, kementerian penerangan mulai bersungguh-sungguh melaksanakan tugasnya. Hasilnya, film-film lokal bergairah kembali. Tahun 1967, Wim Umboh memproduksi film berwarna Indonesia pertama yang berjudul Sembilan (1967) yang diproduksi dengan biaya sangat tinggi. Tahun 1969 pemerintah juga memproduksi film-film percontohan yang diharapkan dapat mengangkat perfilman nasional, seperti Apa Jang kau Tjari Palupi?(1969) karya Asrul Sani, Djambang Mentjari Naga Hitam (1968) karya Lilik Sudjio, Mat Dower (1969) karya Nya Abbas Acup, Nyi Ronggeng (1969) dan Kutukan Dewata (1969) karya Alam Surawidjaya. Hasilnya ternyata cukup positif, pada tahun 1969 produksi film hanya 9 judul, tahun 1970 meningkat menjadi 20 judul, dan tahun 1971 meningkat menjadi 52 judul. Awal tahun 70-an, tokoh-tokoh film nasional seperti Usmar Ismail dan Djamaludin Malik telah tiada. Djamaludin Malik meninggal pada Juni 1970 dan tak lama kemudian Usmar Ismail juga berpulang.
Tahun 1970 muncul desakan kepada pemerintah dari industri perfilman agar sensor terhadap film Indonesia dilonggarkan seperti perlakuan pada film-film impor. Maka muncul film-film yang memasukkan unsur erotisme seperti Djambang Mentjari Naga Hitam (1968) dan Bernafas Dalam Lumpur (1970). Kedua film yang juga telah diproduksi berwarna ini ini merupakan pelopor dari film-film yang mengutamakan adegan berbau seksual dan penuh dengan adegan aksi yang kejam. Namun pada akhir tahun 1972, Badan Sensor Film kembali bersikap tegas terhadap film-film yang berbau seksual.
Sutradara Teguh karya memulai debutnya melalui Wadjah Seorang Lelaki (1971). Film ini dipuji pengamat namun tidak sukses komersil. Teguh adalah seorang sutradara teater yang kelak menjadi sutradara berpengaruh di era 1980-an. Sementara sineas kawakan lainnya, Wim Umboh memproduksi film Pengantin Remadja (1971) yang sukses secara komersil. Pada Tahun 1973 dipelopori oleh Sumardjono diselenggarakan kembali FFI yang sempat vakum beberapa tahun. Hingga tahun 1980-an pemenang FFI masih didominasi oleh sineas-sineas seperti Wim Umboh, SyumanDjaya, Teguh Karya, serta Asrul Sani. Namun pada era ini juga sudah muncul sutradara-sutradara muda seperti, Ismail Subardjo, Slamet Raharjo, dan Franky Rorempandey. Film-film yang populer tahun 70-an diantaranya Ratapan Anak Tiri (1973), Bing Slamet  Koboi Cengeng (1974), Karmila (1976) serta, Inem Pelayan Sexy (1977).
Era 1980-1999

Pada era 1980-an hingga awal 1990-an film-film yang paling populer masa ini adalah film-film komedi slapstick yang dibintangi oleh grup lawak legendaris, Warkop DKI, yakni Dono, Kasino, Indro seperti Mana Tahaaan.. (1979), Setan Kredit (1981), Tahu diri Dong (1984), Maju Kena Mundur Kena (1983) dan Sabar Dulu dong (1989). Dengan gaya banyolan yang unik dan konyol, Warkop telah memproduksi lebih dari 30 film dan hampir seluruhnya sukses komersil. Pada masa ini juga populer genre horor yang dipelopori sang ratu horor, Suzanna, seperti, Sundel Bolong (1981), Malam Jumat Kliwon (1986), dan Malam Satu Suro (1988). Film aksi fantasi sejarah, Saur Sepuh: Satria Madangkara (1987), yang diadaptasi dari sandiwara radio populer juga sukses besar dengan empat sekuelnya. Aktor laga, Barry Prima juga sukses dengan film aksi sejenis melalui Jaka Sembung (1981) dengan tiga sekuelnya. Sementara film remaja Catatan Si Boy (1987) yang dibintangi Onky Alexanderd dan Meriam Bellina, juga sukses besar dengan empat sekuelnya.
Sementara itu muncul pula film-film drama berkualitas dari sutradara-sutradara berpengaruh pada masa ini seperti, Doea Tanda Mata (1984) karya Teguh Karya, Matahari-Matahari (1985) karya Arifin C Noer, Tjoet Nyak Dien (1986) karya Eros Djarot, Kodrat (1986), karya Slamet Rahardjo Djarot, Kejarlah daku Kau Kutangkap (1985) karya Chaerul Umam, serta Nagabonar (????) karya Deddy Mizwar. Sementara Pengkhianatan G-30-S PKI (1982) karya Arifin C. Noer yang merupakan film propaganda fenomenal, menjadi film terlaris era 80-an dan kelak selalu diputar di televisi nasional tiap tahunnya selama era Orde baru.
Dimulai awal dekade 1990-an hingga awal dekade 2000-an kondisi perfilman Indonesia mati suri dengan menurunnya jumlah produksi film nasional terutama sekali karena munculnya TV swasta di akhir era 80-an. Sejak Tahun 1993, FFI tidak lagi diselenggarakan karena minimnya produksi. Di tengah kondisi serba sulit ini sejak awal 90-an hingga tahun 1997, muncul film-film erotis berkualitas rendah yang mengeksploitasi seks semata dengan judul-judul yang bombastis, sebut saja macam Gadis Metropolis (1992), Ranjang yang Ternoda (1993), Gairah Malam (1993), Pergaulan Metropolis (1994), Gairah Terlarang (1995), Akibat Bebas Sex (1996), Permainan Erotik (1996), serta Gejolak Seksual (1997).  
Namun film-film drama berkualitas masih muncul seperti seperti Taksi (1990) Arifin C Noer, Sri (1997) sutradara Marselli Sumarno, Telegram (1997) karya Slamet Raharjo Djarot, serta Badut-Badut Kota (1993) karya Ucik Supra. Garin Nugroho juga memulai debutnya dengan film-filmnya seperti Cinta Dalam Sepotong Roti (1990), Daun di Atas Bantal (1997), dan Puisi Tak Terkuburkan (1999). Dewan Film Nasional juga membiayai Bulan Tertusuk Ilalang (1994) karya Garin Nugroho dan Cemeng 2005 (1995) karya sutradara N. Riantiarno untuk menggairahkan kembali perfilman nasional seperti yang telah dilakukan pada era 60-an silam. Sementara dari kalangan sineas independen, muncul sineas-sineas intelek muda yang kelak berpengaruh pada dekade mendatang seperti Riri Reza, Mira Lesmana, Rizal Mantovani, dan Nan Acnas dengan memproduksi Kuldesak (1997).
Era 2000 - Sekarang

Pasca reformasi dianggap sebagai momentum awal kebangkitan perfilman nasional. Momen ini ditandai melalui film musikal anak-anak Petualangan Serina (1999) karya Riri Reza serta diproduseri Mira Lesmana yang sukses besar di pasaran. Selang beberapa tahun diproduksi dua film fenomenal yang sukses luar biasa yang selanjutnya memicu produksi film-film lokal. Pertama adalah film horor Jelangkung (2001) karya sutradara Jose Purnomo dan Rizal Mantovani dan kedua Ada Apa Dengan Cinta? (2001) karya Sutradara Rudi Soedjarwo yang diproduseri oleh Mira Lesmana dan Riri Reza. AADC sukses fenomenal hanya dalam tiga hari diputar di Jakarta film ini telah meraih 62.217 penonton. Dua film ini dianggap sebagai film pelopor yang nantinya banyak bermunculan puluhan film-film dengan tema dan genre yang sama. Film bertema remaja dan film horor bahkan hingga kini masih membanjir dan laris di pasaran.
Mengikuti sukses AADC film-film roman dan melodrama remaja bermunculan dan tak jarang menggunakan bintang muda, penyanyi atau grup musik yang tengah naik daun. Film-film roman remaja yang populer antara lain Eiffel I’m in Love (2003) karya Nasri Ceppy, Heart (2005), Inikah Rasanya Cinta? (2005), Love in Perth (2010), Purple Love (2011), Love is U (2012). Sineas Nayato Fio Fuala dikenal juga memproduksi film-film melodrama yang menyayat hati antara lain Cinta Pertama (2006), The Butterfly (2007), serta My Last Love (2012). Melalui Virgin (2004) film remaja mulai berani mengambil tema-tema yang dianggap tabu sebelumnya.
Genre horor mendominasi pasar melalui film-film horor remaja yang umumnya mengambil cerita mitos atau legenda dari sebuah tempat atau lokasi angker yang menampilkan makhluk-makhluk gaib khas lokal, seperti kuntilanak, pocong, genderuwo, suster ngesot, tuyul, dan sebagainya. Pengaruh horor Jepang juga seringkali tampak dan tak jarang pula memasukkan unsur erotisme sebagai bumbu. Beberapa film horor populer diantaranya, Tusuk Jelangkung (2002), Kuntilanak (2006), Terowongan Casabanca (2007), Tali Pocong Perawan (2008), serta Suster Keramas (2009). Bahkan Suzanna, sang ratu horor pun masih sempat bermain dalam Hantu Ambulance (2008). Selain film-film horor bermunculan film-film slasher ala barat seperti Rumah Dara (2010), Air Terjun Pengantin (2009), Pintu Terlarang (2009), hingga yang terbaru Modus Anomali (2012). Genre horor juga sering dipadukan dengan genre komedi, seperti Setan Budeg (2009), Poconggg Juga Pocong (2011), dan Nenek Gayung (2012).
Selain film roman dan horor, film bergenre komedi juga juga sukses besar di pasaran. Film ini rata-rata juga ditujukan untuk penonton remaja dan beberapa diantaranya berkualitas baik. Dalam perkembangan film komedi yang berbumbu seks juga semakin banyak diproduksi. Film-film komedi yang populer dan sukses diantaranya Arisan! (2003) serta sekuelnya yang rilis tahun lalu, Get Married (2007) dengan dua sekuelnya, Get Married 2 (2009), dan Get Married 3 (2011), Sekuel Nagabonar, yaitu Naga Bonar jadi 2 (2007), Quickie Express (2007), XL :Extra Large (2008) serta Otomatis Romantis (2008).  
Film anak-anak diproduksi tidak sebanyak film roman dan horor namun film bertema ini seringkali sukses besar di pasaran. Film umumnya berkisah tentang perjuangan seorang anak atau sekelompok anak-anak untuk menggapai impian dan cita-citanya. Film-film anak-anak yang populer antara lain Denias, Senandung di Atas Awan (????) karya John De Rantau. Laskar Pelangi (2008) dan Sang Pemimpi (2009) karya Riri Reza diangkat dari novel best seller karya Andrea Hirata. Laskar Pelangi (2008) menjadi film terlaris di Indonesia dengan penonton mencapai 4.606.785. Film anak-anak tidak jarang pula dipadukan dengan genre olah raga, seperti Garuda di Dadaku (2009), King (2009), dan Tendangan Dari Langit (2011). Industri perfilman kita melakukan terobosan dengan memproduksi film animasi musikal melalui Meraih Mimpi (2009).

Film-film bergenre drama juga banyak muncul yang biasanya berkisah tentang perjuangan hidup, perncarian eksistensi diri, nilai-nilai moral, dan dan masalah sosial. Beberapa diantaranya berkualitas sangat baik dan sukses di beberapa ajang festival film intersnasional. Film-filmnya drama populer diantaranya Cau Bau Kan (2001) dan Berbagi Suami (2006) yang keduanya karya sutradara Nia Dinata, lalu Pasir Berbisik (2000) dan The Photograph (2007) karya Nan Achnas, Eliana, Eliana (2002), 3 hari untuk Selamanya (????), dan Gie (2004) karya Riri Reza, Mengejar Matahari (2004) karya Rudi Soedjarwo, Surat Kecil Untuk Tuhan (2011), dan pemenang Citra tahun lalu Sang Penari (2011) karya Ifa Irfansyah.
Film bertema religi Kiamat Sudah Dekat (2003) karya Deddy Mizwar memang sukses komersil namun adalah Ayat-ayat Cinta (2008) karya Hanung Bramantyo yang mengangkat genre religi menjadi populer hingga sekarang. Film religi kental sekali dengan nuansa agama (muslim) dan kisahnya berhubungan dengan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari dan tak jarang pula dibumbui unsur roman. Film-film religi populer seperti Ketika Cinta Bertasbih (2009), Ketika Cinta Bertasbih 2 (2009), Perempuan Berkalung Sorban (2009), Dalam Mihrab Cinta (2010), Tanda Tanya (2011), hingga film religi anak-anak, Negeri 5 Menara (2012). Film religi juga mengangkat kisah tokoh agama seperti Sang Pencerah (2010) dan yang baru dirilis Soegija (2012). Sementara Cin(T)a (2009) serta 3 Hati Dua Dunia, Satu Cinta (2010)  mengangkat tema masalah beda agama.
Genre aksi baru mulai populer akhir dekade 90-an dan seringkali berpadu dengan tema kriminal dan perang, seperti Serigala Terakhir (2009), Merah Putih (2009), Darah Garuda (2010), Merantau (2009), serta yang baru saja rilis The Raid (2012). The Raid bahkan sukses dirilis luas di Amerika dan sempat masuk 11 besar box office mingguan disana. Selain sukses secara komersil film ini juga sukses secara kritik karena adegan aksinya yang dikoreografi secara menawan. Film ini merupakan sejarah bagi kita karena sukses komersil di mancanegara hingga menjadi perbincangan banyak media dan pengamat film di dunia.
Sedangkan dari para pembuat film non mainstream (non komersil) muncul pula film-film alternatif. Beberapa diantaranya abstrak, kompleks, dan ceritanya sulit dipahami orang awam. Tema film yang diangkat biasanya merupakan kritik dan respon terhadap isu sosial, ekonomi, dan politik di negara ini. Garin Nugroho adalah satu diantara sineas yang memilih di jalur ini, dan seringkali justru film-filmnya mendapat apresiasi di festival-festival luar negeri. Film-filmnya seperti Opera Jawa (2006), Under the Tree (2008), Generasi Biru (2008), serta Mata Tertutup (2012). Juga film-film semi abstrak seperti Novel Tanpa Huruf R (2003) dan Identitas (2009) karya Aria Kusumadewa.
Setelah vakum selama duabelas tahun, Festival Film Indonesia akhirnya mulai diselenggarakan kembali pada tahun 2004. Peraih Citra tahun 2006, Ekskul (2006) membuat kontroversi dengan menggunakan ilustrasi musik film-film populer barat seperti Gladiator, Bourne Supremacy, Taegukgi, dan Munich. Sebagai bentuk protes, para peraih Piala Citra tahun tersebut seperti Riri Reza, Mira Lesmana, dan lainnya melakukan aksi pengembalian Piala Citra. Mereka pulalah yang membentuk festival film tandingan, yakni IMA (Indonesian Movie Award) yang diselenggarakan pertama kali pada tahun 2007.
Dari sedikit penjelasan diatas terlihat perkembangan perfilman Indonesia dari masa ke masa yang dinamis. Hingga saat ini sinema kita masih berjuang mencari bentuknya menuju industri film yang lebih mapan. Secara rata-rata, kualitas kita masih dibawah industri film negara Asia lainnya seperti Jepang, Hong Kong, Korea, bahkan Thailand. Secara teknis kita tidak kalah namun dari aspek cerita kita masih sangat lemah. Para sineas kita masih harus lebih banyak belajar dan jeli mencari celah untuk bisa bersaing dengan film-film dari negara lain. Sukses The Raid bisa menjadi secercah harapan, bukan hal yang mustahil film kita bisa menembus pasar internasional.

suku batak

10 Ciri Khas Orang Batak

Orang Batak, bagi masyarakat suku lain di belahan lain selain pulau Sumatra, mungkin gampang dan mudah dikenal, karena memiliki beberapa ciri khas yang menonjol dan agak berbeda dan suku-suku lain di Indonesia.

Di bawah ini adalah 10 ciri khas yang menjadi pertanda bahwa anda adalah orang Batak.

10. Suara Keras
Orang Batak pada umumnya (kebanyakan), kalau berbicara pasti dengan volume suara yang keras, sehingga membuat orang lain langsung menoleh, (mungkin dikira sedang berkelahi atau bertengkar). Hal ini dikarenakan karena pemukiman asli orang Batak yang tinggal di daerah pegunungan, rumah berjauhan dan banyak dilalui oleh angin yang kencang, sehingga orang Batak harus berbicara keras-keras agar terdengar oleh lawan bicaranya. Jadi jangan heran, ketika seseorang berbicara dengan anda, langsung bertanya "orang Batak ya ?", soalnya kentara kali logat kau itu .. he he
Tapi jangan salah, karena saat ini juga banyak orang Batak yang berbicara pelan dan terdengar lembut, mungkin karena sudah terasimilasi dengan karakter budaya daerah kelahirannya, seperti lahir di pulau Jawa atau di daerah lain yang karakter penduduknya tergolong lemah lembut.
Tapi jangan laa sampek ilang pulak, ciri-ciri Bataknya ya?

9. Logat Kental
Rupanya orang Batak agak sulit melepaskan logat khasnya yang kental, terutama yang BTL (he he .. Batak Tembak Langsung) he he .. sorry jan tesinggung kelen ya ?
Orang Batak, mungkin hampir mirip dengan orang Jawa, yaitu apabila berbicara bahasa Indonesia, pasti terlihat dengan jelas dialek kentalnya. Sehingga orang lain yang mendengar orang Batak berbicara pasti terus tahu kalau yang sedang berbicara itu "halak hita". apalagi terselip kata "bah" nya ...
Ada beberapa orang Batak yang mencoba menghilangkan logat aslinya, dengan mempelajari dialek-dialek yang sedang tren di Televisi saat ini, seperti dialek betawi-jakarta. Bisa juga yaa.., tapi ah, sayang lah, lebih enak kok dialek Batak itu kedengarannya.

8. Muka (Wajah) Segi Empat
Awalnya bingung juga, mendengar istilah muka segi empat ini, ternyata menurut orang-orang, kalau orang Batak itu mukanya kotak alias segi empat. Benarkah ? he he .. ah ada-ada aja orang itu ya ...
Tapi kalau dilihat dan diperhatikan ada benarnya juga ya, soalnya mukak awak pun agak-agak segi opat .. he he.. Jadi kata orang, kalau bentuk wajah segi empat pasti orang Batak. Ah kaget juga dengarnya ...
Walaupun iya, tapi nggak juga ah, soalnya banyak juga kok orang Batak yang wajahnya tidak kotak dan bagus, jadi artis-artis keren, lihat saja, Momo (vocalis Geisha), Donnie Sibarani vocalis Ada Band, Anisa Pohan menantunya Presiden SBY, Nadya Hutagalung model cantik Internasional, dan banyak lagi tak bisa disebutkan semua, karena pasti penuh pulak halaman posting ini nantinya.

7. Rambut Acak-Acakan Tak Disisir
Ada lagi yang entah benar, entah tidak. Katanya orang Batak rambutnya jarang disisir, jadi terlihat acak-acakan dan dibiarkan, sehingga menimbulkan kesan kayak preman lah katanya .. he he .. Ah, kalau ini awak tak terima lah, soalnya awak aja rambutnya rapi terus kok, pakek tancho jadi mantap punya ... he he ..
Mungkin yang dimaksud orang itu, halak hita yang banyak berprofesi di terminal-terminal bus atau angkot, yang tersebar di Jakarta dan sekitarnya yaa ... ah entah lah itu .. biar pembaca aja yang meneruskannya... Padahal kenyataannya orang Batak sekarang banyak kok yang keren-kerena dan rapi, penampilan sopan dan terpelajar.

6. Kasar
Istilah kasar, ini sepertinya agak salah, karena pada dasarnya orang Batak tidak kasar, dan menghargai orang lain. Hanya saja, mungkin karena suara keras dan ceplas ceplos. Sehingga orang-orang sering mengatakan kalau orang Batak tidak sopan. Beberapa istilah batak yang sering terucap, juga hanya spontanitas, dengan tidak , memikirkan artinya, seperti dari halak Toba "te mi", "baba ni amam", "bodat ho", "buj??? inam", "babi", "u??? ni amam" atau yang dari kalak Karo, "ti?? nandem", "n?tu". Hanya saja suara keras orang Batak terdengar seperti bentakan, sehingga kadang membuat orang enggan terlibat obrolan dengan kalangan Batak. Tapi benarkah orang Batak kasar ? sebenarnya tidak, yang bisa dikatakan kasar itu sebenarnya adalah orang-orang Batak jebolan kota Medan, karena biasanya di kota Medan orang-orang biasa berkata-kata kasar, yang menjadi hal biasa karena diucapkan dan menjadi bagian percakapan bahasa dialek di kota Medan.

5. Tak Sopan
Masalah sopan santun, mungkin setiap daerah memiliki takaran sopan yang berbeda-beda. Mungkin bagi orang Jawa, orang Batak tidak sopan, karena bersikap sesukanya, seperti duduk sambil naik kaki, tak pake "permisi", atau "kulo nuwun" di jawa, atau "punten" di sunda, atau juga tak pakai membungkuk-membungkuk apabila berpapasan dan bersalaman dengan orang tua. Yah .. kalau ini yang dikatakan tidak sopan, biar aja lah ... karena dalam adat Batak memang tidak dianjurkan untuk memberi hormat yang berlebihan seperti itu. Bagi orang Batak dengan tidak menghina atau melecehkan orang lain, adalah penghargaan terhadap orang lain yang paling baik. Jadi tidak perlu pakai membungkuk-bungkuk lah...

4. Menang Sendiri
Salah satu karakter orang Batak yang memang menonjol adalah rasa ingin menang sendirinya, yang berarti tidak mau kalah, kalau pun kalah, pasti banyak bikin alasan... he he ... benar nggak ?


3. Mendominasi
Lalu ada satu lagi karakter orang Batak yaitu mendominasi. Hal ini terlihat ketika orang Batak terlibat dalam suatu obrolan dengan beberapa orang. Apabila diperhatikan, biasanya orang Bataknya lah yang paling banyak bicara, dan sepertinya pendapat dia lah yang paling benar. Walaupun begitu, ada juga kok orang Batak yang lebih suka menjadi pendengar.

2. Berani Tampil
Orang Batak, punya perasaan pede (percaya diri) yang tinggi, sehingga dalam segala hal suka berada di depan (kecuali menghadapi macan kalee yaa ?) he he ....


1. Suka Menolong
Katanya, menurut pendapat orang-orang, bahwa orang Batak suka menolong. Benar nggak ya ? Hal tolong menolong memang sudah menjadi sifat dan karakter orang Batak. Apalagi melihat orang lain mendapat kesusahan, biasanya orang Batak berusaha mencoba menolong, sebatas yang dia mampu lakukan.
Benar atau tidaknya hal ini, biarlah pembaca yang menilainya.

Ke 10 point di atas, dibuat berdasarkan tanya sana dan tanya sini, jadi mengenai benar atau tidaknya, tergantung dari penilaian kita masing-masing. Apabila ada tulisan yang menyinggung perasaan, penulis mohon maaf sebesar-besarnya.

pengaruh media sosial terhadap hubungan dan interaksi sosial


Ingatkah anda bagaimana sulitnya untuk berhubungan dengan orang lain di luar kota, luar pulau, atau luar negeri 20 tahun lalu? Tarif telepon yang masih mahal atau surat yang membutuhkan waktu yang lama dalam pengiriman, membuat orang, relasi, dan keluarga yang terpisah jauh akan sangat sulit untuk dihubungi. Mereka yang sangat membutuhkan kabar sanak saudara pun hanya bias berharap agar pak pos menyampaikan surat tersebut sampai di tangan kita.

Namun perkembangan teknologi yang pesat membuat berhubungan dengan orang lain meskipun terpisah ribuan kilometer dan zona waktu yang berbeda pun menjadi semudah membalikkan telapak tangan. Ya, media sosial adalah salah satu perkembangan teknologi yang memiliki andil besar dalam memberikan kemudahan bagi manusia untuk berkomunikasi dan bersosialisasi, apalagi sekarang teknologi computer dan laptop sudah terjangkau bagi kalangan bawah sampai atas.

Dimulai dari era Friendster dengan logo senyumannya, MySpace yang identik dengan Band – Band yang mempromosikan Band-nya. Era Facebook yang belum di kalahkan kegemparannya di kalangan remaja sampai saat ini, sampai era Twitter yang identik dengan kicauan burungnya, dan yang baru baru ini booming adalah Google Plus. media ini memicu banyak perubahan manusia dalam bersosialisasi. Ini sesuai dengan tujuan awal mengapa media sosial dibuat yaitu memungkinkan kita untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain di seluruh dunia untuk mencari teman baru, pasangan hidup, berbisnis, bahkan berpolitik.
           

Media social pasti memiliki sisi positif dan sisi negative pula. Berikut contoh dari sisi positif dari media social:

1.      Memudahkan anda dalam berinteraksi dengan orang lain.
      Jika keluarga ataupun teman anda yang sedang terpisah jauh ingin anda jumpai sangatlah mudah dengan menggunakan media social. Hanya dengan surfing internet, anda bias melepas kerinduan anda dengan orang tersebut.
      Ataupun anda yang seorang pemalu bias berkenalan dalam dunia media social tanpa canggung.Anda tidak lagi harus menghadapi ketegangan, kegugupan, dan gemetar ketika anda mendekati seorang wanita. Lewat media sosial, anda dapat mengatur langkah dan strategi anda tanpa takut terlihat seperti seekor cacing kepanasan lagi. Komunikasi lebih mudah mengalir dibandingkan saat anda berbicara langsung

2.      Memperluas pertemanan
      Media sosial membuat anda bisa memiliki banyak koneksi dan jaringan yang luas. Tentu saja itu berdampak positif jika anda ingin mendapatkan teman dan pasangan hidup dari tempat yang jauh atau negara asing.

3.      Jarak dan waktu bukan lagi masalah
      Di Era media social yang sedang booming kita dapat dengan mudah member kabar kepada orang yang sedang berada di luar negeri mungkin. Dengan mengirimkan surat elektronik (E-Mail) anda dapat surat menyurat tanpa harus menunggu terlalu lama dengan surat biasa.

4.      Lebih mudah dalam mengekspresikan diri
Media sosial memberikan sarana baru bagi manusia dalam mengekspresikan diri. Orang biasa, orang yang pemalu, atau orang yang selalu gugup mengungkapkan pendapat di depan umum akhirnya mampu menyuarakan diri mereka secara bebas
.


Ternyata media social ada dampak negative. Berikut contoh dampak negative dari media social:

1.      Menjauhkan orang-orang yang sudah dekat dengan anda di kehidupan sehari-hari
Orang yang terjebak dalam media sosial memiliki kelemahan besar yaitu beresiko mengabaikan orang-orang di kehidupan sehari-harinya. Jangan heran apabila anda lebih sering menghabiskan waktu berinteraksi di dunia maya apabila anda sudah terjebak, apalagi sekarang teknologi smartphone semakin memudahkan anda untuk mengakses internet. Anda akan mulai berpikir pergaulan lewat media sosial sudah cukup. Singkatnya, yang jauh semakin dekat, yang dekat semakin jauh.
2.      Rentan terhadap pengaruh buruk orang lain
Seperti di kehidupan sehari-hari, jika anda tidak menyeleksi orang-orang yang berada dalam lingkaran sosial anda maka anda akan lebih rentan terhadap pengaruh buruk. Bahkan menurut John Cacioppo, seorang peneliti dari Universitas Chicago, media sosial bisa mempengaruhi mood anda, tergantung dengan siapa anda menghabiskan waktu dan terhadap siapa anda memberikan perhatian di media sosial.

3.       Masalah privasi
Memiliki banyak teman di media sosial tidak selalu menguntungkan, terutama apabila anda sering mengungkapkan sesuatu yang seharusnya tidak diketahui orang lain. Media sosial bisa dengan mudah memperburuk citra diri anda jika anda tidak memanfaatkannya dengan benar karena apa yang anda tulis, tautkan, dan unggah bisa dengan mudah dilihat oleh orang lain.
Pada tahun 2010 Facebook di klaim tidak melindungi informasi pengguna facebook walaupun sudah di protect profile orang tersebut. Dan banyak pula artis artis yang terkait isu tak sedap akibat menuliskan kata kata yang mungkin dianggap masyarakat tidak pantas.

Kesimpulannya adalah Media social adalah media tambahan untuk pergaulan di dunia nyata. Jangan terlalu berlebihan akan media social.

“ Media social Mendekatan orang jauh, Menjauhkan orang  dekat.”

kasus korupsi ahmad fatonah

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus menelusuri aliran dana tersangka tindak pidana pencucian uang kasus korupsi impor daging sapi, Ahmad Fathanah.

Setelah menyita sejumlah harta dari beberapa wanita yang terkait dengan orang dekat mantan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq itu, kemarin giliran dua rumah mewah Fathanah yang disita. Kedua rumah itu masing-masing berada di Perumahan Pesona Khayangan Blok BS Nomor 5 dan Perumahan Permata Depok Cluster Berlian 2 Blok H2 nomor 15, Kota Depok, Jawa Barat.

“Penyitaan terkait penyidikan tindak pidana pencucian uang tersangka. Rumah di Permata Depok atas nama istri Ahmad Fathanah, yakni Sefty Sanustika,” kata Juru Bicara KPK Johan Budi SP di Gedung KPK, Jakarta, kemarin. Penyitaan rumah di Pesona Khayangan dilakukan petugas KPK sekitar 12.50 WIB, sedangkan di Perumahan Permata Depok sekitar pukul 16.00 WIB.

Sebelum menyegel rumah, petugas KPK mendatangi bagian legal perumahan untuk memastikan rumah tersebut benar milik Fathanah. Berdasarkan pantauan di lapangan kemarin, di dekat pintu pagar rumah Pesona Khayangan itu terpasang papan ” Dijual Rumah”. Menurut bagian legal dan arsitek Pesona Khayangan, Kenang PH, rumah dengan luas tanah 545 meter persegi dengan bangunan 620 meter persegi yang dilengkapi kolam renang itu memang dibeli Fathanah, namun belum lunas.

”Masih ada sisa pembayaran yang belum dilunasi Fathanah sebesar Rp2 miliar dari harga yang disepakati Rp5,8 miliar,” kata dia. Kenang mengatakan, Fathanah telah membayar uang muka rumah itu Rp10 juta dan mengangsurnya hingga mencapai Rp3,8 miliar. Dia menyatakan KPK semestinya tidak menyita rumah itu karena hak milik belum sepenuhnya berada di tangan Fathanah.

”Saya berharap pembayaran sisa Rp2 miliaritudilunasidulu,” katanya. Johan Budi mengungkapkan, KPK akan terus menelusuri aliran dana tersangka. Aset-aset yang diduga terkait dengan tindak pidana pencucian uang yang dilakukan pria yang juga berstatus tersangka kasus suap pengurusan impor daging sapi di Kementerian Pertanian itu, tentunya akan disita untuk kepentingan penyidikan.

Fathanah ditangkap di Hotel Le Meridien Jakarta (29/1) setelah menerima suap dari dua direktur PT Indoguna Utama, Arya Abdi Effendi dan Juard Effendi. Kasus ini turut menyeret Luthfi Hasan Ishaaq dan Direktur Utama PT Indoguna Utama Elizabeth Liman. Dalam kasus TPPU ini, Selasa (7/5) lalu, penyidik KPK telah menyita Honda Freed B 881 LAA, gelang merek Hermes, dan jam tangan Rolex yang diserahkan Fathanah kepada Tri Kurnia Puspita.

Sebelumnya, KPK juga menyita uang Rp10 juta dari Maharani Suciono, mahasiswi yang diamankan saat penangkapan Fathanah. Belakangan uang dari pria asal Makassar itu juga mengalir ke artis Ayu Azhari sebesar Rp20 juta dan USD1.800. Tidak cukup itu, KPK juga menyita Honda Jazz putih bernomor polisi B 15 VTA dan jam tangan mewah buatan Swiss merek Chopard senilai Rp70 juta dari tangan model majalah dewasa, Vitalia Sesha.

Pengakuan Sefty

Sefty Sanustika, 29, mengaku akan terus mendampingi suaminya hingga kasus tersebut selesai. Dia berharap ada jalan terbaik bagi pria yang menikahinya Desember 2011 itu. “Fokus saya sekarang membesarkan anak sambilmengawalBapak. Semoga dalam proses hukumnya dilancarkan dan diberi keringanan,” harapnya ditemui kemarin. Ibu dari Ammira Naura Fathanah ini mengaku selama menikah dengan Fathanah, dirinya tidak pernah tahu urusan bisnis suaminya, termasuk dari mana saja dana yang masuk rekening.

Walaupun sempat beberapa kali mendampingi Fathanah bertemu dengan relasi, Sefty tak pernah ikut campur. ”Saya selalu duduk di meja terpisah dengan relasi Bapak,” katanya. Bagi Sefty, sosok Fathanah dikenal sebagai pria baik dan penyayang keluarga. Wanita berjilbab ini lantas menceritakan pertemuannya pada Juni 2011 setelah dikenalkan temannya.

Dari perkenalan itu, tercipta komunikasi intensif hingga Fathanah meminangnya. Saat itu, Fathanah berstatus duda. ”Karena dengan dua istri sebelumnya sudah bercerai,” katanya. Wanita yang sempat muncul dalam dunia hiburan pada 2003 itu menuturkan, saat ini status dirinya adalah istri resmi Fathanah satu-satunya.

“Saya tegaskan, saya bukan istri ketiga. Saya istri sah Bapak satusatunya,” klaim dia. Mengenai kemunculan sejumlah perempuan lain di sekitar suaminya, dia mengaku tidak tahu-menahu. “Saya tidak tahu bagaimana perlakuan Bapak di luar. Bagaimana dia dengan wanita-wanita lain. Makanya saya sangat kecewa dan sakit hati mengetahuinya,” cetus wanita asal Depok, Jawa Barat itu.

Hilmi Tak Penuhi Panggilan

Sementara itu dalam kasus korupsi impor daging sapi, Ketua Majelis Syura PKS Hilmi Aminuddin kemarin mangkir dari panggilan KPK. Hilmi yang telah diundang resmi mendadak membatalkan kedatangannya dengan alasan ada kegiatan yang tidak dapat ditinggalkan. Zainuddin Paru, kuasa hukumHilmi, mengatakan bahwa kliennya berhalangan hadir karena ada agenda yang tidak dapat dibatalkan.

“Makanya pada hari ini kami datang untuk menyampaikan surat pemberitahuan (tidak bisa hadir) dan permohonan maaf,” ungkap Zainuddin . Dia meyakinkan, Hilmi diperkirakan hadir Selasa (14/5) mendatang sesuai kesepakatan pihaknya dengan tim penyidik KPK. Begitu pula dengan rencana pemeriksaan terhadap Presiden PKS Anis Matta, Zainuddin menyatakan sejauh ini Anis mengonfirmasi bakal hadir.

Untuk diketahui, selain Hilmi dan Anis, KPK juga menjadwalkan pemeriksaan terhadap Rama Pratama (swasta), Imas Aryumningsih (wiraswasta), Ojeng Cardinata (wiraswasta), Ahmad Zaky (wiraswasta), Muhamad Munir (swasta). Adapun asisten pribadi Luthfi Hasan Ishaaq, Rantala Sikayo, kemarin telah dimintai keterangan. Rantala mengaku dicecar beberapa pertanyaan oleh tim penyidik seputar keberadaan namanya di STNK mobil Nissan Navara milik Luthfi yang telah disita KPK.

“Itu saya tidak tahu, cuma katanya iya (ada nama saya),” ungkap Rantala saat meninggalkan Gedung KPK. Pada bagian lain, PKS akan melaporkan KPK ke pihak kepolisian, Komite Etik KPK, dan DPR terkait rencana penyitaan mobil yang dianggap tak sesuai prosedur hukum. Ketua DPP PKS Al Muzzammil Yusuf mengatakan, penyitaan mobil tanpa disertai surat dan identitas yang jelas merupakan sebuah kesalahan.

“Karena itu, kami akan melaporkan kepada pihak kepolisian dan Komite Etik KPK,” katanya di kantor DPP PKS kemarin. KPK mendatangi kantor DPP PKS, Senin (6/5) malam dan Selasa (7/5) sore, untuk menyita lima mobil di DPP PKS terkait pengembangan kasus impor daging sapi. Namun, upaya ini tak berhasil karena dihalanghalangi. Muzzammil menegaskan, berdasarkan keterangan pihak keamanan DPP PKS, penyidik KPK saat itu tidak menunjukkan surat apa pun.

Merespons pernyataan itu, Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto menegaskan pihaknya membawa surat permintaan penyitaan dan penggeledahan ketika akan menyita lima mobil di kantor DPP PKS. Bambang mengungkapkan, penyidik juga membawa komputer dan printer sebagai persiapan membuat berita acara. Karena penyitaan gagal, petugas KPK hanya menyegel mobil-mobil tersebut. ● r ratna purnama/ dian ramdhani/ dita angga